MEDAN– Bimbingan Teknis Bikopra merupakan salah satu upaya Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dalam memberdayakan UKMK (Usaha Kecil, Menengah dan Koperasi).
Demikian dikatakan Kepala Divisi Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) BPDPKS Helmi Muhansyah saat memberikan sambutan pada pembukaan acara Bimbingan Teknis UMKM Bikopra bagi anggota Aspekpir di Sumatra Utara yang dilaksanakan di Grandhika Hotel, Medan, Senin, 06 Maret 2023.
Kegiatan UMKM Bimtek Bikopra dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Sumatera Utara H. Musa Rajeckshah dan dihadiri Wakil Bupati Batubara Oky Iqbal Prima, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Sumut Lies Handayani Siregar, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sumut Nazli, Kepala Divisi KUKM BPDPKS Helmi Muhansyah.
Kemudian Ketua Umun Aspekpir Setiyono, Ketua Dewan Pengawas DPP Aspekpir Rusman Heriawan, Kepala Sekretariat Aspek-PIR Effendi Pasaribu, Wakil Ketua Aspekpir Agus Sutarman, Bendahara Umum Aspekpir Sutoyo, Ketua DPD I Aspekpir Sumut Syarifudin Sirait, serta anggota dan pengurus Aspekpir Sumut.
Helmi mengatakan kegiatan Bimtek Bikopra bagi anggota Aspekpir sudah dilaksanakan di tiga lokasi yakni di Pekanbaru Provinsi Riau, Pontianak Provinsi Kalimantan Barat dan terakhir saat ini di Medan, Sumatra Utara. Dia menambahkan BPDPKS memiliki berbagai program yang bisa diakses oleh masyarakat di Sumatra Utara, termasuk mendukung pembangunan di Sumatra Utara.
Yang Pertama, BPDPKS mempunyai program pembangunan sumber daya manusia. Ini adalah beasiswa yang bisa diakses oleh putera-puteri dari pekebun-pekebun sawit. Program ini bisa diakses bagaimana nanti diberikan beasiswa untuk belajar tentang kelapa sawit. Free semua, mulai dari tiket pesawat pulang pergi, uang kuliah hingga uang saku ditanggung.
BPDPKS juga memiliki program penelitian dan pengembangan yang bisa diakses universitas-universitas di Sumatra Utara. Jadi yang menjadi core kelapa sawit supaya terus berkelanjutan, maka kita butuh riset. BPDPKS memiliki grand riset sawit yang bisa diberikan kepada peneliti-peneliti dan mahasiswa di Sumatra Utara.
“Kami juga punya program promosi. Kemudian peremajaan sawit rakyat yang paling familiar, sarana dan prasarana yang bisa diakses misalnya jalan-jalan kebun sawit yang rusak, penyediaan bahan pangan, hilirisasi dan pemanfaatan minyak nabati,” katanya.
Kita tahu bahwa sawit secara ekonomi tentu tidak bisa lepas kitanafikan sebagai salah satu penyumbang ekspor terbesar Indonesia. Data BPS 2023, ada tiga komoditas unggulan yang menjadi penyumbang terbesar ekspor Indonesia yakni komoditas Batubara, besi baja dan komoditas yang menjadi kebanggaan Indonesia yakni minyak kelapa sawit.
Posisi Januari 2023, total ekspor, khususnya kelapa sawit sudah memberikan devisa sebesar US$2 miliar dengan volume sekitar 2,2 juta ton. Dengan kurs Rp15,300 per dollar, maka dari kelapa sawit sudah menghasilkan devisa sebesar Rp30 triliun. “Tentu ini juga bisa diakses dan dinikmati oleh UMKM berbasis sawit di Sumatra Utara dan anggota Aspekpir,” katanya.
Helmi menambahkan awal Februari lalu juga baru diluncurkan program Biodiesel atau B-35 yang merupakan program strategis.
Terkait program kemitraan UKMK kelapa sawit, BPDPKS siap bergotong royong, berkolaborasi, bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatra Utara, maupun stakeholders di Sumatra Utara dalam rangka mendorong kemajuan dan keberlanjutan kelapa sawit.
Kegiatan ini diharapkan bisa memberikan percepatan bagi pembangunan di Sumatra Utara. Kami tidak ingin kegiatan ini berhenti di workshop atau seremonial, tetapi benar-benar bagaimana bisa menghasilkan. “Bagaimana nanti bisa melahirkan desa-desa devisa UMKM berbasis kelapa sawit di Sumatra Utara,” katanya. AJ